Monday, September 2, 2013

Cerita Sex
Rok Miniku dan ketat gadis smu
Cerita Dewasa ini mengisahkan sebuah
cerita dewasa tentang pergaulan yang
terjadi pada anak smu sekarang. Jadi
begini awal mula cerita seks ini
dikisahkan dari seorang yang bernama
riska. Riska adalah seorang gadis pelajar
kelas 3 di sebuah SMU negeri terkemuka
di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun
ini memiliki tubuh yang sekal dan padat,
kulitnya kuning langsat. Rambutnya
tergerai lurus sebahu, wajahnya juga
lumayan cantik.
Dia adalah anak bungsu dari lima
bersaudara, ayahnya adalah seorang
pejabat yang kini bersama ibunya
tengah bertugas di ibukota, sedang
kakak-kakaknya tinggal di berbagai
kota di pulau jawa ini karena keperluan
pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah
Riska seorang diri di rumah tersebut,
terkadang dia juga ditemani oleh
sepupunya yang mahasiswi dari sebuah
universitas negeri ternama di kota itu.
Sebagai anak ABG yang mengikuti trend
masa kini, Riska sangat gemar memakai
pakaian yang serba ketat termasuk juga
seragam sekolah yang dikenakannya
sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya
beberapa senti di atas lutut sudah cukup
menyingkapkan kedua pahanya yang
putih mulus, dan ukuran roknya yang
ketat itu juga memperlihatkan lekuk
body tubuhnya yang sekal
menggairahkan.
Penampilannya yang aduhai ini tentu
mengundang pikiran buruk para laki-
laki, dari yang sekedar menikmati
kemolekan tubuhnya sampai yang
berhasrat ingin menggagahinya. Salah
satunya adalah Parno, si tukang becak
yang mangkal di depan gang rumah
Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu,
memang seorang pria yang berlibido
tinggi, birahinya sering naik tak
terkendali apabila melihat gadis-gadis
cantik dan seksi melintas di hadapannya.
Sosok pribadi Riska memang cukup supel
dalam bergaul dan sedikit genit
termasuk kepada Parno yang sering
mengantarkan Riska dari jalan besar
menuju ke kediaman Riska yang masuk
ke dalam gang.
Suatu sore, Riska pulang dari sekolah.
Seperti biasa Parno mengantarnya dari
jalan raya menuju ke rumah. Sore itu
suasana agak mendung dan hujan rintik-
rintik, keadaan di sekitar juga sepi,
maklumlah daerah itu berada di
pinggiran kota YK. Dan Parno
memutuskan saat inilah kesempatan
terbaiknya untuk melampiaskan hasrat
birahinya kepada Riska. Ia telah
mempersiapkan segalanya, termasuk
lokasi tempat dimana Riska nanti akan
dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan
memutar lewat jalan yang lebih sepi,
jalurnya agak jauh dari jalur yang
dilewati sehari-hari karena jalannya
memutar melewati areal pekuburan.
"Lho koq lewat sini Pak?", tanya Riska.
"Di depan ada kawinan, jadi jalannya
ditutup", bujuk Parno sambil terus
mengayuh becaknya.
Dengan sedikit kesal Riska pun terpaksa
mengikuti kemauan Parno yang mulai
mengayuh becaknya agak cepat. Setelah
sampai pada lokasi yang telah
direncanakan Parno, yaitu di sebuah
bangunan tua di tengah areal pekuburan,
tiba-tiba Parno membelokkan becaknya
masuk ke dalam gedung tua itu.
"Lho kenapa masuk sini Pak?", tanya
Riska.
"Hujan..", jawab Parno sambil
menghentikan becaknya tepat di
tengah-tengah bangunan kuno yang
gelap dan sepi itu. Dan memang hujan
pun sudah turun dengan derasnya.
Bangunan tersebut adalah bekas pabrik
tebu yang dibangun pada jaman belanda
dan sekarang sudah tidak dipakai lagi,
paling-paling sesekali dipakai untuk
gudang warga. Keadaan seperti ini
membuat Riska menjadi semakin panik,
wajahnya mulai terlihat was-was dan
gelisah.
"Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di
sini, daripada basah-basahan sama air
hujan mending kita basah-basahan
keringat..", ujar Parno sambil
menyeringai turun dari tempat kemudi
becaknya dan menghampiri Riska yang
masih duduk di dalam becak.
Bagai tersambar petir Riskapun kaget
mendengar ucapan Parno tadi.
"A.. Apa maksudnya Pak?", tanya Riska
sambil terbengong-bengong.
"Non cantik, kamu mau ini?" Parno tiba-
tiba menurunkan celana komprangnya,
mengeluarkan penisnya yang telah
mengeras dan membesar.
Riska terkejut setengah mati dan
tubuhnya seketika lemas ketika melihat
pemandangan yang belum pernah dia
lihat selama ini.
"J.. Jaangan Pak.. Jangann.." pinta Riska
dengan wajah yang memucat.
Sejenak Parno menatap tubuh Riska
yang menggairahkan, dengan posisinya
yang duduk itu tersingkaplah dari balik
rok abu-abu seragam SMU-nya kedua
paha Riska yang putih bersih itu. Kaos
kaki putih setinggi betis menambah
keindahan kaki gadis itu. Dan di bagian
atasnya, kedua buah dada ranum
nampak menonjol dari balik baju putih
seragamnya yang berukuran ketat.
"Ampunn Pak.. Jangan Pak..", Riska mulai
menangis dalam posisi duduknya sambil
merapatkan badan ke sandaran becak,
seolah ingin menjaga jarak dengan
Parno yang semakin mendekati
tubuhnya.
Tubuh Riska mulai menggigil namun
bukan karena dinginnya udara saat itu,
tetapi tatkala dirasakannya sepasang
tangan yang kasar mulai menyentuh
pahanya. Tangannya secara refleks
berusaha menampik tangan Parno yang
mulai menjamah paha Riska, tapi
percuma saja karena kedua tangan
Parno dengan kuatnya memegang kedua
paha Riska.
"Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg..
Jangann..", Riska meronta-ronta dengan
menggerak-gerakkan kedua kakinya.
Akan tetapi Parno malahan semakin
menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat
kedua paha Riska itu sambil merapatkan
badannya ke tubuh Riska.
Riska pun menjadi mati kutu sementara
isak tangisnya menggema di dalam
ruangan yang mulai gelap dan sepi itu.
Kedua tangan kasar Parno mulai
bergerak mengurut kedua paha mulus
itu hingga menyentuh pangkal paha
Riska. Tubuh Riska menggeliat ketika
tangan-tangan Parno mulai
menggerayangi bagian pangkal paha
Riska, dan wajah Riska menyeringai
ketika jari-jemari Parno mulai menyusup
masuk ke dalam celana dalamnya.
"Iihh..", pekikan Riska kembali
menggema di ruangan itu di saat jari
Parno ada yang masuk ke dalam liang
vaginanya.
Tubuh Riska menggeliat kencang di saat
jari itu mulai mengorek-ngorek lubang
kewanitaannya. Desah nafas Parno
semakin kencang, dia nampak sangat
menikmati adegan 'pembuka' ini.
Ditatapnya wajah Riska yang megap-
megap dengan tubuh yang menggeliat-
geliat akibat jari tengah Parno yang
menari-nari di dalam lubang
kemaluannya.
"Cep.. Cep.. Cep..", terdengar suara dari
bagian s*****kangan Riska. Saat ini
lubang kemaluan Riska telah banjir oleh
cairan kemaluannya yang mengucur
membasahi s*****kangan dan jari-jari
Parno.
Puas dengan adegan 'pembuka' ini, Parno
mencabut jarinya dari lubang kemaluan
Riska. Riska nampak terengah-engah, air
matanya juga meleleh membasahi
pipinya. Parno kemudian menarik tubuh
Riska turun dari becak, gadis itu
dipeluknya erat-erat, kedua tangannya
meremas-remas pantat gadis itu yang
sintal sementara Riska hanya bisa
terdiam pasrah, detak jantungnya terasa
di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu.
Parno juga menikmati wanginya tubuh
Riska sambil terus meremas remas
pantat gadis itu.
Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir
Riska yang tebal dan sensual itu,
dikulumnya bibir itu dengan rakus bak
seseorang yang tengah kelaparan
melahap makanan.
"Eemmgghh.. Mmpphh..", Riska
mendesah-desah di saat Parno melumat
bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitny
a bibir Riska oleh gigi dan bibir Parno
yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman
Parno pun bergeser ke bagian leher
gadis itu.
"Oohh.. Eenngghh..", Riska mengerang-
ngerang di saat lehernya dikecup dan
dihisap-hisap oleh Parno.
Cengkeraman Parno di tubuh Riska
cukup kuat sehingga membuat Riska
sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal
inilah yang membuat Riska pasrah di
hadapan Parno yang tengah
memperkosanya. Setelah puas, kini
kedua tangan kekar Parno meraih
kepala Riska dan menekan tubuh Riska
ke bawah sehingga posisinya berlutut di
hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak
di hadapannya. Langsung saja oleh Parno
kepala Riska dihadapkan pada penisnya.
"Ayo.. Jangan macam-macam non
cantik.. Buka mulut kamu", bentak Parno
sambil menjambak rambut Riska.
Takut pada bentakan Parno, Riska tak
bisa menolak permintaannya. Sambil
terisak-isak dia sedikit demi sedikit
membuka mulutnya dan segera saja
Parno mendorong masuk penisnya ke
dalam mulut Riska.
"Hmmphh..", Riska mendesah lagi ketika
benda menjijikkan itu masuk ke dalam
mulutnya hingga pipi Riska
menggelembung karena batang
kemaluan Parno yang menyumpalnya.
"Akhh.." sebaliknya Parno mengerang
nikmat. Kepalanya menengadah keatas
merasakan hangat dan lembutnya
rongga mulut Riska di sekujur batang
kemaluannya yang menyumpal di mulut
Riska.
Riska menangis tak berdaya menahan
gejolak nafsu Parno. Sementara kedua
tangan Parno yang masih
mencengkeram erat kepala Riska mulai
menggerakkan kepala Riska maju
mundur, mengocok penisnya dengan
mulut Riska. Suara berdecak-decak dari
liur Riska terdengar jelas diselingi
batuk-batuk.
Beberapa menit lamanya Parno
melakukan hal itu kepada Riska, dia
nampak benar-benar menikmati. Tiba-
tiba badan Parno mengejang, kedua
tangannya menggerakkan kepala Riska
semakin cepat sambil menjambak-
jambak rambut Riska. Wajah Parno
menyeringai, mulutnya menganga,
matanya terpejam erat dan..
"Aakkhh..", Parno melengking, croot..
croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih
kental dari kemaluan Parno yang
mengisi mulut Riska yang terkejut
menerima muntahan cairan itu. Riska
berusaha melepaskan batang penis
Parno dari dalam mulutnya namun sia-
sia, tangan Parno mencengkeram kuat
kepala Riska. Sebagian besar sperma
Parno berhasil masuk memenuhi rongga
mulut Riska dan mengalir masuk ke
tenggorokannya serta sebagian lagi
meleleh keluar dari sela-sela mulut
Riska.
"Ahh", sambil mendesah lega, Parno
mencabut batang kemaluannya dari
mulut Riska.
Nampak batang penisnya basah oleh
cairan sperma yang bercampur dengan
air liur Riska. Demikian pula halnya
dengan mulut Riska yang nampak basah
oleh cairan yang sama. Riska meski
masih dalam posisi terpaku berlutut,
namun tubuhnya juga lemas dan shock
setelah diperlakukan Parno seperti itu.
"Sudah Pak.. Sudahh.." Riska menangis
sesenggukan, terengah-engah mencoba
untuk 'bernego' dengan Parno yang
sambil mengatur nafas berdiri dengan
gagahnya di hadapan Riska.
Nafsu birahi yang masih memuncak
dalam diri Parno membuat ten****ya
menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi
dia telah menenggak jamu super kuat
demi kelancaran hajatnya ini
sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi,
tak lama kemudian nafsunya kembali
bergejolak hingga batang kemaluannya
kembali mengacung keras siap
menerkam mangsa lagi.
Parno kemudian memegang tubuh Riska
yang masih menangis terisak-isak. Riska
sadar akan apa yang sebentar lagi
terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang
lebih mengerikan. Badan Riska bergetar
ketika Parno menidurkan tubuh Riska di
lantai gudang yang kotor itu, Riska yang
mentalnya sudah jatuh seolah tersihir
mengikuti arahan Parno.
Setelah Riska terbaring, Parno
menyingkapkan rok abu-abu seragam
SMU Riska hingga setinggi pinggang.
Kemudian dengan gerakan perlahan,
Parno memerosotkan celana dalam
putih yang masih menutupi
s*****kangan Riska. Kedua mata Parno
pun melotot tajam ke arah kemaluan
Riska. Kemaluan yang merangsang,
ditumbuhi rambut yang tidak begitu
banyak tapi rapi menutupi bibir
vaginanya, indah sekali.
Parno langsung saja mengarahkan
batang penisnya ke bibir vagina Riska.
Riska menjerit ketika Parno mulai
menekan pinggulnya dengan keras,
batang penisnya yang panjang dan besar
masuk dengan paksa ke dalam liang
vagina Riska.
"Aakkhh..", Riska menjerit lagi, tubuhnya
menggelepar mengejang dan wajahnya
meringis menahan rasa pedih di
s*****kangannya.
Kedua tangan Riska ditekannya di atas
kepala, sementara ia dengan sekuat
tenaga melesakkan batang
kemaluannya di vagina Riska dengan
kasar dan bersemangat.
"Aaiihh..", Riska melengking keras di
saat dinding keperawanannya berhasil
ditembus oleh batang penis Parno. Darah
pun mengucur dari sela-sela kemaluan
Riska.
"Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh.."
Parno mendesis nikmat.
Setelah berhasil melesakkan batang
kemaluannya itu, Parno langsung
menggenjot tubuh Riska dengan kasar.
"Oohh.. Oogghh.. Oohh..", Riska
mengerang-ngerang kesakitan.
Tubuhnya terguncang-guncang akibat
gerakan Parno yang keras dan kasar.
Sementara Parno yang tidak peduli terus
menggenjot Riska dengan bernafsu.
Batang penisnya basah kuyup oleh
cairan vagina Riska yang mengalir deras
bercampur darah keperawanannya.
Sekitar lima menit lamanya Parno
menggagahi Riska yang semakin
kepayahan itu, sepertinya Parno sangat
menikmati setiap hentakan demi
hentakan dalam menyetubuhi Riska,
sampai akhirnya di menit ke-delapan,
tubuh Parno kembali mengejang keras,
urat-uratnya menonjol keluar dari
tubuhnya yang hitam kekar itu dan
Parno pun berejakulasi.
"Aahh.." Parno memekik panjang
melampiaskan rasa puasnya yang tiada
tara dengan menumpahkan seluruh
spermanya di dalam rongga kemaluan
Riska yang tengah menggelepar
kepayahan dan kehabisan tenaga karena
tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-
gerakan Parno.
Dan akhirnya kedua tubuh itupun
kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi
desahan nafas panjang yang terdengar
dari mulut Parno. Parno puas sekali
karena telah berhasil melaksanakan
hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik
yang selama ini menghiasi
pandangannya dan menggoda dirinya.
Setelah rehat beberapa menit tepatnya
menj***** Isya, akhirnya Parno dengan
becaknya kembali mengantarkan Riska
yang kondisinya sudah lemah pulang ke
rumahnya. Karena masih lemas dan
akibat rasa sakit di s*****kangannya,
Riska tak mampu lagi berjalan normal
hingga Parno terpaksa menuntun gadis
itu masuk ke dalam rumahnya.
Suasana di lingkungan rumah yang sepi
membuat Parno dengan leluasa
menuntun tubuh lemah Riska hingga
sampai ke teras rumah dan kemudian
mendudukkannya di kursi teras. Setelah
berbisik ke telinga Riska bahwa dia
berjanji akan datang kembali untuk
menikmati tubuhnya yang molek itu,
Parno pun kemudian meninggalkan Riska
dengan mengayuh becaknya menghilang
di kegelapan malam, meninggalkan
Riska yang masih terduduk lemas di
kursi teras rumahnya

No comments:

Post a Comment